

Penulis-AndiArdiansyah
Keistimewaan Kerajaan Sriwijaya awalnya mulai berkembang pada pertengahan abad ke 7 M. Pada saat itu Nusantara tengah menjadi kepulauan yang ramai dikunjungi oleh para musafir yang berasal dari India dan Cina.
Hal tersebut dibuktikan dengan adanya artefaktual yang menunjukan adanya hubungan yang sudah terjalin antara Nusantara, Asia Tenggara, India dan Cina sejak awal ketentuan masa Masehi mulai dihitung. Masa itu seringkali disamakan dengan zaman protosejarah, yaitu sebuah masa periode transisi dari masa prasejarah menuju masa sejarah.
Peninggalan Kerajaan Sriwijaya terkenal banyak tersebar di wilayah Sumatera Selatan, namun tidak hanya itu, peninggalannya juga di temukan pada berbagai daerah di Indonesia seperti wilayah Jambi, Lampung, Pulau Bangka, dan juga pada wilayah Semenanjung Melayu di daerah Thailand selatan. Dari berbagai temuan yang tersebar luas maka mudah ditafsirkan bahwa pada masanya Sriwijaya telah memiliki armada angkatan laut yang sangat memadai.
Keistimewaan Kerajaan Sriwijaya, Bahari di Asia Tenggara
1. Jalur Perdagangan dan Perairan
Kerajaan Sriwijaya sejak dahulu sudah menjadi sebuah kerajaan yang memiliki perdagangan rempah-rempah karena jalurnya yang berada di dekat jalur perairan maka terbentuklah jalur pelayaran dan perdagangan antara Kanton, Sriwijaya, Jawa, dan Melayu. Dari Sriwijaya para pedagang kemudian melanjutkan perjalanan menuju Nusantara bagian timur, India, Persia, dan Arab.
Para pelaut diharuskan melewati Pulau Bangka untuk menuju Sriwijaya. Pulau Bangka terkenal dengan Bukit Menumbing yang dijadikan sebagai pedoman oleh para pelaut untuk dapat memasuki mulut Sungai Musi yang menjadi jalan masuk menuju Kerajaan Sriwijaya. Pada awal abad ke-15 dalam sebuah peta yang disebut sebagai peta Mao K’un yang dibuat oleh Ma-huan, tertulis nama Peng-Chian yang diidentifikasikan sebagai Bukit Menumbing yang terletak di sebelah barat laut Pulau Bangka. Dalam bahasa tersebut Shan memiliki arti yaitu gunung.
Saat ini Bukit Menumbing dapat disaksikan jika kita berlayar ke luar mulut Sungai Musi. Di Selat Bangka dari jauh akan terlihat bukit menonjol secara samar-samar. Bukit itu adalah Bukit Menumbing.
2. Tempat Berkembangnya Agama Buddha
Keistimewaan Kerajaan Sriwijaya dulunya adalah tempat berkembangnya agama Buddha. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya situs-situs Batujaya (Karawang, Jawa Barat), Batu Pait (Sanggau, Kalimantan Barat), Kota Bangun (Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur), Sempaga (Sulawesi Barat), dan Wadu Pa’a (Bima, Nusa Tenggara Barat). Pada kerajaan Sriwijaya sendiri agama budhha mulai berkembang pada abad ke 7 sampai 9 M. Berdasarkan penemuan votive tablet dari Batujaya yang mirip dengan penemuan di Thailand, agama Buddha diduga awalnya merupakan Budhha Hinayana (Therawada).
Pada masa lalu Sriwijaya merupakan tempat belajar dari para bhiksu sebelum akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke Nalanda (India). Sama seperti apa yang dikatakan oleh I-tsing yang datang ke Sriwijaya pada abad ke 7, Sriwijaya menjadi tempat tinggal lebih dari 1000 bhiksu, diantaranya juga terdapat para bhiksu ternama yaitu Sakyakirti.
Peran Sriwijaya dalam berkembangnya agama Buddha ini terlihat dari penyebaran dalam gaya seni pada arca-arca bergaya Sailendra yang berkembang pada abad-abad ke 8-9. Arca-archa tersebut bisa ditemukan di Semenanjung Tanah Melayu. Gaya seni itu diduga bermula berkembang di Jawa, Sumatera, Thailand, dan Malaysia.
Sriwijaya adalah kota dengan nuasa Buddhis yang banyak ditemukan pada area Budhha, Bodhisattwa, dan pada perlengkapan para penziarah yaitu berupa stupika dan votive dari tanah liat.
3. Kerajaan Bahari di Asia Tenggara
Pada salah satu cuplikan dari prasasti Kedudukan Bukti yang berbunyi
” ….. bulan Jyestha Dapunta Hiyang bertolak dari Minanga sambil membawa dua laksa tentara dengan perbekalan sebanyak dua ratus (peti) berjalan dengan perahu dan yang berjalan kaki sebanyak seribu tiga ratus dua belas datang di Mukha Upang … “
Cuplikan tersebut menunjukkan bahwa Kerajaan Sriwijaya yang terindikasi adalah sebuah kerajaan bahari. Bahkan tentara kerajaan Sriwijaya lebih banyak yang menggunakan perahu daripada berjalan kaki. Kerajaan bahari adalah sebuah kerajaan maritim yang memiliki dimensi waktu dan tradisi yang berkaitan dengan laut. Kerajaan Sriwijaya memiliki pengaruh perkembangangan dan pereknomian yang besar melalui perdagangan dan pelayaran.
Adanya bukti-bukti kuat yang muncul menunjukkan Sriwijaya sebagai kerajaan bahari adalah dengan ditemukannya runtuhan perahu yang berasal dari sekitar abad ke 6-7 Masehi, yaitu Kolam Pinisi, Samirejo, Tulung Selapan, Karang Agung, dan Kota Kapur. Runtuhan kapal tersebut memiliki kesamaan yaitu ditemukannya tonjolan berukuran segiempat panjang pada salah satu permukaan kapal yang disebut Tamboko. Tonjolan ini juga memiliki lubang di bagian samping yang tembus di bagian atas. Biasanya ditemukan sisa dari tali liuk di lubang-lubang tersebut.
Perahu-perahu dari Kerajaan Sriwijaya dibuat dengan teknik papan ikat dan kupingan perangkat (sewn-plank and lashed-lug tech nique). Sesuai dengan tradisi budaya Asia Tenggara. Dalam teknik ini untuk membentuk bagian lambung menggunakan cara dengan menyatukan satu papan dengan papan lain dengan menggunakan pasak/kayu bambu yang dikuatkan dengan ikatan tali ijuk pada bagian tambuko.
Itulah penjelasan mengenai keistimewaan Kerajaan Sriwijaya. Berdasarkan pengaruh dan koneksinya yang luas hingga memintas laut dan selat, maka dapat dipastikan jika Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan bahari pada masanya. Pada masa kekuasaanya Sriwijaya pernah mempersatukan Nusantara, setidaknya pada bagian barat Nusantara pada awal sejarah sebelum akhirnya kerajaan-kerajaan besar lainnya mulai berkembang.
#srjwijaya#kesultanan#
Tinggalkan komentar